Pantau Titik Panas Indonesia · karhutla

Metodologi & Batasan

Halaman ini menjelaskan dari mana angka di peta berasal, bagaimana kami menghitungnya, dan — yang sama pentingnya — apa yang tidak bisa disimpulkan darinya.

Satu kalimat yang wajib diingat redaksi: titik panas (hotspot) adalah deteksi anomali suhu oleh sensor satelit — bukan konfirmasi bahwa ada kebakaran hutan. Sebuah titik bisa berasal dari pembakaran lahan terkendali, tungku industri, suar gas (gas flare) kilang minyak, atau permukaan yang sangat panas.

1. Sumber data

Cakupan pemindaian: kotak koordinat 94°–142° BT dan 12° LS–7° LU, satu periode (24 jam terakhir saat data diambil).

2. Dari koordinat ke provinsi

NASA FIRMS hanya memberi koordinat, bukan nama wilayah. Kami menentukan provinsi setiap titik lewat uji point-in-polygon terhadap batas administratif, diproses saat build — bukan saat halaman dibuka. Tidak ada server, tidak ada panggilan API eksternal saat Anda membuka peta ini.

Toleransi pesisir: presisi VIIRS ±375 m sedangkan garis pantai pada peta batas lebih kasar, sehingga titik di tepi pantai bisa jatuh "di laut". Titik yang berada dalam radius ±5,5 km dari daratan tetap kami klaim ke provinsi terdekat.

3. Formula Indeks Keparahan (IK)

Jumlah titik saja menyesatkan: 100 titik lemah tidak sama dengan 20 titik yang membakar besar. Karena itu peringkat "terparah" memakai energi api terbobot, bukan jumlah titik.

Langkah 1 — bobot keyakinan

Tingkat keyakinanBobot (w)
Tinggi (high)1,0
Sedang (nominal)0,6
Rendah (low)0,3

Langkah 2 — energi provinsi

Eprov = Σ ( FRPtitik × wtitik ) FRP = Fire Radiative Power dalam megawatt, yaitu laju energi radiasi api yang terdeteksi satelit.

Langkah 3 — normalisasi ke skala 0–100

IKprov = 100 × ln(1 + Eprov) / ln(1 + Emaks) Skala logaritmik dipakai supaya satu provinsi ekstrem tidak membuat semua provinsi lain terlihat "nol".

Emaks adalah energi provinsi tertinggi pada hari itu. Konsekuensinya: IK bersifat relatif harian — provinsi teratas selalu mendekati 100. IK 90 hari ini dan IK 90 minggu lalu belum tentu tingkat kebakaran yang sama. Perbandingan antar-hari baru valid setelah data historis tersedia (Fase 3).

4. Ambang dan klasifikasi

Intensitas tinggi = FRP ≥ 20 MW. Ambang ini dipakai konsisten di seluruh produk.

FRPLabel di petaWarna
< 5 MWSinyal lemahSedang
5 – 20 MWSedangSedang
20 – 100 MWKuatKuat
> 100 MWSangat kuatSangat kuat

5. Batasan yang harus disebut di artikel

  1. Bukan konfirmasi kebakaran. Verifikasi lapangan (BPBD/Manggala Agni) tetap wajib sebelum menyebut "kebakaran".
  2. Awan menyembunyikan api. Angka nol pada suatu provinsi bisa berarti tidak ada api, atau satelit tidak bisa melihat menembus awan tebal. Musim hujan menekan angka secara artifisial.
  3. Hanya dua lintasan per hari per satelit. Api yang menyala dan padam di antara lintasan tidak terekam.
  4. Satu titik ≠ satu kebakaran. Satu kebakaran besar bisa memicu puluhan piksel terdeteksi; jumlah titik bukan jumlah kejadian.
  5. Angka nasional hanya wilayah Indonesia. Kotak pemindaian melewati Malaysia, Papua Nugini, Timor-Leste, dan Australia utara. Titik di luar wilayah Indonesia dikeluarkan dari total nasional dan dilaporkan terpisah.
  6. Batas provinsi versi lama. Data batas yang dipakai belum memecah Papua menjadi provinsi-provinsi hasil pemekaran 2022 (Papua Selatan, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua Barat Daya). Titik di wilayah itu masih dihitung sebagai "Papua" atau "Papua Barat".
  7. Data NRT belum final. Produk near real-time bisa direvisi NASA saat pemrosesan standar selesai.

6. Waktu

NASA mencatat waktu dalam UTC. Semua waktu yang ditampilkan sudah dikonversi ke zona waktu provinsi bersangkutan (WIB/WITA/WIT) saat build. Label "lintasan berikut" adalah perkiraan berdasarkan jadwal umum VIIRS (±01.30 dan ±13.30 waktu lokal), bukan prediksi orbit presisi.

7. Yang belum ada (peta jalan)

← Kembali ke peta